BAB I
TEORI UMUM
TENTANG MEDIA
Kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk
jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau
pengantar. Media adalah perantara atau
pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan.
Banyak batasan yang diberikan orang tentang media. Asosiasi
Teknologi dan Komunikasi Pendidikan (
Association of Education and Communication Technology/ AECT) di Amerika,
membatasi media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk
menyalurkan pesan/informasi.
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sekarang
ini, telah menjadikan informasi sebagai hal penting yang menunjang proses
kehidupan, dan pembelajaran. Bahkan di masa depan adalah sangat mungkin orang
yang berhasil adalah orang yang mampu menangkap dan memanfaatkan setiap
informasi menjadi pengetahuan dan pengalaman belajar, sehingga menjadi suatu
kompetensi baginya. Perkembangan tersebut tentu akan mempengaruhi bagaimana
proses penyampaian dan salurannya. Dalam dunia pendidikan, informasi akan
disampaikan oleh guru kepada siswa melalui proses pembelajaran dengan
menggunakan media tertentu. Mengingat begitu pentingnya peranan media untuk
mendukung proses pembelajaran, maka guru
perlu merancang suatu pembelajaran yang efektif dan efisien. Untuk merancang suatu proses pembelajaran yang membantu
siswa mencapai tujuan pembelajarannya, maka guru dapat menggunakan model ASSURE,
yaitu suatu model perancang media pembelajaran yang dapat mewujudkan proses pembelajaran yang
efektif dan efisien. Berikut akan di bahas mengenai perancangan media
pembelajaran dengan model ASSURE dilengkapi dengan teori yang mendukung.
Berdasarkan latar
belakang yang di paparkan sebelumnya maka terdapat beberapa tujuan penulisan
makalah ini yaitu;
- Untuk memberikan penjelasan tentang model pembelajaran ASSURE
- Untuk memberikan penjelasan bagaimana sistematika penerapan model ASSURE
- Untuk merancang pelaksanaan pembelajaran dengan model ASSURE menggunakan media pembelajaran yang disesuaikan dengan analisis kebutuhan
C. Manfaat
Berdasarkan latar belakang dan tujuan yang telah dipaparkan
sebelumnya, maka manfaat yang akan diperoleh dari penulisan makalah ini adalah
- Memenuhi tugas akhir semester pada mata kuliah Media Pendidikan
- Sebagai bahan bacaan untuk memperdalam pengetahuan tentang Model ASSURE dan penggunaannya
- Memperkaya khasanan ilmu pengetahuan bagi pembaca lain
BAB
II
KAJIAN
TEORI
A. HAKIKAT
PEMBELAJARAN
Belajar
pada dasarnya merupakan perubahan tingkah laku pada diri pebelajar dan
perubahan pebelajar dengan lingkungan sekitar. Dengan proses belajar yang
dilakukan oleh pebelajar, dinilai mampu merubah tingkah laku si pebelajar itu
sendiri. Belajar menurut Hergenhahn dan Olson (2008:4) merupakan proses ketika
mempelajari perilaku yang berakibat bagi seseorang untuk bisa mengambil
kesimpulan mengenai proses tersebut yang diyakini sebagai sebab dari
perubahan tingkah laku yang terjadi.
Hergenhahn
dan Olson (2008:8) bahwa:
Belajar adalah perubahan perilaku
atau potensi perilaku yang relatif permanen yang berasal dari pengalaman dan
tidak bisa dinisbahkan ke temporary body states (keadaan tubuh temporer)
seperti keadaan yang disebabkan oleh sakit, keletihan atau obat-obatan.
Belajar
yang dimaksud Hergenhahn dan Olson adalah kegiatan yang menghasilkan perubahan
tingkah laku yang relatif permanen dan tidak bisa dipindahalihkan begitu saja
tanpa proses yang dilakukan. Perubahan tingkah laku akibat sakit, keletihan dan
pengaruh obat-obatan juga nilai sebagai hasil bukan dari proses belajar. Senada
dengan Hergenhahn dan Olson, Prayitno (2009:309) mengungkapkan bahwa:
Belajar
merupakan proses perubahan tingkah laku individu yang diperoleh melalui pengalaman,
melalui proses stimulus-respon, melalui pembiasaan, melalui peniruan, melalui
pemahaman dan penghayatan, melalui aktivitas individu meraih sesuatu yang
dikehendakinya.
Dalam
hal ini Hergenhahn dan Olson membatasi perubahan tingkah laku pada perilaku
yang bersifat permanen. Sedangkan Prayitno membatasinya pada konsep operasional
dari belajar itu sendiri. Prayitno secara lebih operasional mengemukakan bahwa
“belajar adalah upaya untuk menguasai sesuatu yang baru” (2009:310).
John Dewey
mengungkapkan sebagian besar dari kita tidak belajar dengan cara diberi tahu,
tetapi dengan berbuat (1916). Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat
disimpulkan bahwa belajar merupakan perubahan tingkah laku yang dimiliki
setelah usaha belajar dan interaksi dilakukan untuk menguasai sesuatu yang
baru. Perubahan tingkah laku yang dimaksud adalah dari tingkah laku yang
sebelumnya belum dimiliki ke tingkah laku yang baru yang menetap secara
permanen, bukan tingkah laku yang berubah akibat keletihan, sakit, pendewasaan
dan narkoba. Sedangkan pembelajaran mengarah kepada proses pembelajaran yang
dilakukan secara terus menerus. Seperti yang diungkapkan Taber (2009:8)
bahwa:
Learning is a process concerned with changes in knowledge and
understanding, so strictly a study that merely investigates what students think
or believe (or at least can suggest in response to a researcher’s questions) at
one point in time should not be considered to be a study of learning
Taber menjelaskan bahwa pembelajaran lebih terpusat pada
proses perubahan dan pemahaman melalui kegiatan belajar yang berlangsung secara
terus menerus. Dari kegiatan yang berkelanjutan tersebut, dapat dibentuk suatu
pemikiran atau keyakinan terhadap sesuatu.
Kemudian menurut Oemar Hamalik (2008:57) pembelajaran
merupakan suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi,
material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi dalam
mencapai tujuan pembelajaran. Operasional pembelajaran sebagai proses dari
pembelajaran itu sendiri menurut Prayitno (2009:478) diikuti oleh peserta
didik, diatur oleh pendidik, meliputi tujuan dan isi pembelajaran, metode dan
alat bantu pembelajaran, lingkungan pembelajaran dan penilaian hasil belajar.
Kegiatan belajar memiliki beberapa fase, diantaranya: fase
motivasi, fase pengetahuan, fase perolehan, fase retensi, fase pemanggilan,
fase generalisasi, fase penampilan, dan fase umpan balik. Berdasarkan delapan
fase tersebut, menurut Ratna Wilis bahwa:
Gagne
menyarankan beberapa fase dalam kegiatan pembelajaran. Yaitu mengaktifkan
motivasi, memberi tahu tujuan belajar, mengarahkan perhatian, merangsang
ingatan, menyediakan bimbingan belajar, meningkatkan retensi, melancarkan
tranfer belajar dan mengeluarkan penampilan dengan memberikan umpan balik.
Sedangkan Rusman (2011:1) mengatakan bahwa pembelajaran
merupakan suatu sistem yang terdiri atas berbagai komponen yang saling
berhubungan satu dengan yang lainnya. Komponen yang dimaksud oleh Rusman adalah
tujuan pembelajaran, materi, metode, dan evaluasi pembelajarannya. Jika
dikaitkan dengan penelitian yang akan dilakukan, komponen-komponen tersebut
harus menjadi perhatian pendidik dalam memilih atau mengembangkan model
pembelajaran yang akan digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Pemilihan model
pembelajaran harus memperhatikan fase dalam tindakan pembelajaran dan komponen
pembelajaran itu sendiri.
Jadi dapat disimpulkan bahwa pembelajaran merupakan kegiatan
yang dilakukan secara berkelanjutan yang dalam pelaksanaannya memerhatikan fase
tindakan pembelajaran dan komponen pembelajaran untuk mencapai tujuan belajar
yang ditentukan
Belajar siswa
dipengaruhi oleh berbagai teori belajar, yang terdiri atas:
1. Perspektif Behavioris
Tokoh
Behaviourisme B.F. Skinner, menjelaskan bahwa
penguatan atau memberi ganjaran pada respons yang diinginkan, dapat
membentuk pola perilaku. Dengan serangkaian penguatan itu akan muncul
pengajaran terprogram yang dikenal dengan pengajaran berbantuan komputer.
Menurut aliran behavioris proses belajar dapat dilihat dari perilaku yang
diamati.
2. Perspektif Kognitifis
Teori belajar kognitifis berkaitan
dengan bagaimana siswa menerima,
memproses dan merekayasa informasi. Menurut Jean Piaget (1977), psikolog
kognitif menelusuri proses mental yang digunakan individu dalam menanggapi
lingkungan mereka. Kognitifisme membahas bagaimana orang berpikir,
menyelesaikan masalah dan membuat keputusan. Para kognitifis menciptakan sebuah
model mental dari ingatan jangka pendek dan jangka panjang, yang akan digunakan
untuk menyimpan informasi. Sehingga siswa tidak selalu tegantung pada guru,
tapi lebih mengandalkan strategi kognitif mereka sendiri dalam memanfaatkan
sumber daya belajar yang tersedia.
3. Perspektif Konstruktivis
Menurut konstruktivisme inti dalam
pembelajaran empiris adalah keterlibatan siswa dalam pengalaman yang bermakna.
Konstruktivisme menekankan bahwa siswa dapat menafsirkan sendiri informasi yang
diterimanya. Siswa akan mendapatkan pengalaman belajar sebagai pengalaman
mereka sendiri, dan tujuan pengajaran adalah tidak untuk mengajarkan informasi,
tetapi menciptakan situasi, sehingga siswa dapat menafsirkan informasi bagi
pemahaman mereka sendiri. Menurut ahli perspektif, belajar efektif adalah
ketika siswa terlibat dalam tugas autentik yang mengaitkan konteks bermakna,
yaitu learning by doing.
4. Perspektif Psikologis Sosial
Psikolog sosial memusatkan belajar
terhadap efek organisasi sosial. Menurut Robert Slavin (1990)(dalam Smalldino,
2008) belajar kooperatif akan lebih efektif dan lebih menguntungkan secara
sosial dibandingkan belajar kompetitif secara individual. Slavin mengembangkan
seperangkat teknik belajar kolaboratif yang mencakup prinsi-prinsp kolaborasi
kelompok kecil, pengajaran yang dikendalikan siswa dan adanya ganjaran (reward)
berdasarkan pencapaian kelompok.
Selain didasarkan pada berbagai teori belajar,
belajar juga terdiri atas beberapa jenis belajar, yaitu :
a.
Ranah Kognitif
Menurut ranah kognitif, belajar
menggunakan serangkaian kemampuan intelektual
yang dapat dikelompokkan dalam informasi verbal, visual, atau
keterampilan intelektual. Belajar verbal melibatkan proses mengingat kembali
fakta/informasi. Sedangkan keterampilan intelektual membutuhkan kemampuan
berpikir kritis dan manipulasi informasi.
b.
Ranah Afektif
Ranah afektif melibatkan sikap,
perasaan dan nilai-nilai. Tujuannya adalah menstimulasi minat terhadap suatu
hal, mendorong perilaku sosial dan memiliki standar etika dalam memanfaatkan
internet.
c.
Ranah
Psikomotor
Menurut ranah ini, belajar melibatkan
keterampilan atletik, manual dan keterampilan fisik lainnya. Tujuannya adalah untuk
kemampuan kegiatan mekanis tertentu, penggunaan berbagai peralatan, dll.
d.
Ranah
Interpersonal
Menurut ranah
ini belajar melibatkan interaksi antara orang-orang. Kemampuan interpersonal
merupakan keterampilan orang untuk berhubungan secara efektif dengan orang
lain.
Berdasarkan
berbagai teori belajar dan jenis-jenis belajar dapat kita simpulkan bahwa
belajar merupakan proses yang sangat penting bagi siswa untuk memahami dan
mengolah berbagai informasi yang diterimanya. Dengan kegiatan belajar yang efektif
maka siswa dapat mencapai tujuan belajarnya. Adanya pengetahuan, pengalaman,
kompetensi serta perubahan sikap merupakan hasil dari setiap proses belajar
yang sesungguhnya.
B. Penggunaan Media Pengajaran dalam
Proses Belajar Mengajar
Proses belajar mengajara atau proses pengajaran merupakan
suatu kegiatan melaksanaan kurikulum suatu lembabaga pendidikan, agar dapat
mempengaruhi para siswa untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
Tujuan pendidikan pada dasarnya mengantarkan para siswa menuju pada
perubahan-perubahan tingkah laku baik intelektual, moral amaupun social agar
dapat hidup mamndiri sebagaiu individu dan makhluk social.
Tujuan pengajaran
adalah rumusan kemampuan yang diharapkan dimiliki para siswa setelah dia
menempuh berbagai pengalaman belajarnya. Bahan pengajaran adalah seperangkat
materi klisasi suaeilmuan yang terdiri atas fakta, konsep, prinsip,
generalisasi suatu ilmu pengetahuan yang bersumber dari kurikulum dan dapat
menunjang tercapainya tujuan pengajaran.
Ada beberapa alasan,
mengapa media pengajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa. Alasan
pertama berkenaan dengan manfaat media pengajaran dalam proses belajar siswa
antara lain:
a. Pengajaran
akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar.
b. Bahan
pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh para
siswa, dan memungkinkan siswa menguasai tujuan pengajaran lebih baik.
c. Metode
mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui
penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak
kehabisan tenag, apabila guru mengajar untuk setiap jam pelajaran.
d. Siswa
lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan uraian
guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati dan, melakukan dan
lain-lain.
C. Media Pembelajaran
1.
Definisi
Media Pembelajaran
Media pembelajaran secara umum adalah alat bantu proses belajar mengajar.
Segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk merangsang pikiran, perasaan,
perhatian dan kemampuan atau ketrampilan pebelajar sehingga dapat
mendorong terjadinya proses belajar. Batasan ini cukup luas dan mendalam
mencakup pengertian sumber, lingkungan, manusia dan metode yang
dimanfaatkan untuk tujuan pembelajaran
/ pelatihan.
Sedangkan
menurut Briggs (1977) media
pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi
pembelajaran seperti : buku, film, video dan sebagainya. Kemudian menurut National
Education Associaton(1969) mengungkapkan bahwa media pembelajaran
adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk
teknologi perangkat keras.
Media pembelajaran adalah sarana penyampaian pesan pembelajaran kaitannya dengan model pembelajaran langsung
yaitu dengan cara guru berperan sebagai penyampai informasi dan
dalam hal ini guru seyogyanya menggunakan berbagai media yang sesuai.
Media pembelajaran adalah alat bantu proses belajar mengajar.
Segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk merangsang pikiran, perasaan,
perhatian dan kemampuan atau ketrampilan pebelajar sehingga dapat
mendorong terjadinya proses belajar. Menurut
Heinich yang dikutip oleh Azhar Arsyad (2011:4), media pembelajaran adalah perantara yang membawa pesan atau
informasi bertujuan instruksional atau mengandung maksud-maksud
pengajaran antara sumber dan penerima.
2.
Klasifikasi Media
Dari segi perkembangan teknologi,
media pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi dua kategori luas, yaitu pilihan
media tradisional dan pilihan media teknologi mutakhir (Seels & Glasgow
dalam Arsyad, 2002:33). Lebih lanjut dijelaskan bahwa pilihan media tradisional
dapat dibedakan menjadi (1) visual diam yang diproyeksikan, misal proyeksi
opaque (tak tembus pandang), proyeksi overhead, slides, dan filmstrips, (2)
visual yang tidak diproyeksikan, misal gambar, poster, foto, charts, grafik,
diagram, pemaran, papan info, (3) penyajian multimedia, misal slide plus suara
(tape), multi-image, (4) visual dinamis yang diproyeksikan, misal film,
televisi, video, (5) cetak, misal buku teks, modul, teks terprogram, workbook,
majalah ilmiah/berkala, lembaran lepas (hand-out), (6) permainan, misal
teka-teki, simulasi, permainan papan, dan (7) realia, misal model, specimen
(contoh), manipulatif (peta, boneka). Sedangkan pilihan media teknologi
mutakhir dibedakan menjadi (1) media berbasis telekomunikasi, misal teleconference,
kuliah jarak jauh, dan (2) media berbasis mikroprosesor, misal computer-assistted
instruction, permainan komputer, sistem tutor intelejen, interaktif, hypermedia,
dan compact (video) disc.
3.
Fungsi dan
Manfaaat Media Pembelajaran
Begitu besarnya peran media dalam
pembelajaran jelas memberikan manfaat bagi pelaksanaan pembelajaran. Adapun
peran dan fungsi media pembelajaran (Wina Sanjaya, 2011 ) adalah :
a.
Menangkap suatu objek atau peristiwa
–peristiwa tertentu
b.
Memanipulasi keadaan, peristiwa dan
objek tertentu
c.
Menambah gairah
dan motivasi belajar siswa
d.
Media
pembelajaran memiliki nilai praktis
sebagai : mengatasi keterbatasan pengalaman siswa, mengatasi batas ruang
kelas, dan memungkinkan terjadinya interaksi langsung antara siswa dengan
lingkungan, menghasilkan keseragaman pengamatan, menanamkan konsep dasar yang
benar, nyata dan tepat, membangkitkan motivasi dan meransang siswa untuk
belajar dengan baik, membangkitkan keinginan dan minat baru, mengontrol
kecepatan belajar, meberikan pengalaman yang menyeluruh dari hal-hal yang
konkret sampi abstrak.
Selain berbagai
fungsi diatas, Kemp dan Dayton (1985)(dalam Wina Sanjaya 2011) juga
mengungkapkan bahwa media memiliki kontribusi penting dalam mendukung
pembelajaran, diantaranya adalah :
a.
Penyampaian pesan pembelajaran dapat
lebih terstandar
b.
Pembelajaran
dapat lebih menarik
c.
Pembelajaran
menjadi lebih interaktif
d.
Waktu
pelaksanaan pembelajaran dapat ditingkatkan
e.
Proses
pembelajaran dapat berlangsung kapan dan dimana pun
f. Sikap positif siswa terhadap materi
pembelajaran serta proses pembelajaran dapat ditingkatkan.
g. Peran guru
berubah ke arah yang positif , guru tidak lagi menjadi sumber belajar
satu-satunya.
Dari berbagai
fungsi tersebut dapt kita simpulkan, bahwa fungsi dan manfaat media
pembelajaran adalah sebenarnya adalah
untuk menjadikan pembelajaran lebih mudah di pahami oleh siswa, meningkatkan
ketertarikan dan motivasi siswa, membantu menjelaskan yang abstrak menjadi
lebih konkret.
4.
Kategori dasar
dan format media
a. Kategori dasar media
Pentingnya
peran media dalam pembelajaran sangat membantu guru untuk menjadikan proses
pembelajaran menjadi efektif, karena itu guru perlu mengetahui berbagai
kategori media. Menurut Smaldino (2012) ada 6 kategori dasar media, yaitu :
1)
Teks, yakni karakter alfanumerik yang
dapat ditampilkan dalam berbagai format, seperti buku, poster, layar komputer,
papan tulis dan lain-lain.
2)
Audio, yakni segala sesuatu yang dapat
didengar, seperti suara orang, musik, suara bising, dll.
3)
Visual, yakni
segala sesuatu yang dapat kita lihat, misalnya diagram pada poster, gambar,
buku, dll.
4)
Video, yakni media yang menampilkan
gerakan, misalnya rekaman video, animasi komputer, DVD, dll.
5)
Perekayasa, yakni segala sesuatu yang
bersifat tiga dimensi dan dapat disentuh, misalnya benda-benda.
6)
Manusia,
seperti guru, siswa, ahli bidang studi dll.
Dari semua
kategori media ini, kita dapat memilih dan menggunakan berbagai kategori media
yang cocok dengan pembelajaran dan dapat mendukung pencapaian tujuan
pembelajaran secara efektif dan efisien.
b. Format media
Format media
adalah bentuk fisik pesan yang akan ditampilkan. Format media disesuaikan
dengan jenis medianya, misalnya untuk teks dan visual, dapat menggunakan format
slide powerpoint, untuk suara dan musik dapat menggunakan format Compact Disc
(CD) atau DVD untuk menampilkan video,
sedangkan untuk keterpaduan teks, audio dan video, dapat menggunakan format
komputer multimedia.
Ada beberapa
hal yang perlu diperhatikan guru dalam memilih format media, yaitu jumlah media dan teknologi yang tersedia,
keragaman siswa, dan tujuan yang harus dicapai, situasi/keadaan dimana
pengajaran berlangsung (kelompok kecil atau besar), variabel siswa, dan juga
sifat tujuan yang ingin dicapai (kognitif, afektif, psikomotor), serta kemapuan
dalam menyajikan format media.
5.
Prinsip
Pemilihan dan Penggunaan Media Pembelajaran
a. Prinsip-prinsip dalam pemilihan media
Untuk dapat
memilih media pembelajaran yang akan digunakan guru dalam mendukung roses
pembelajaran, ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan, yaitu :
1) Pemilihan media
berdasarkan / haruslah sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai,
baik itu tujuan kognitif, afektif dan psikomotor.
2) Pemilihan media haruslah berdasarkan
konsep yang jelas, bukan atas kesenangan guru, melainkan menjadi bagian
integral dalam pembelajaran.
3) Pemilihan media hendaklah disesuaikan
dengan karakteristik siswa
4) Pemilihan media
hendaknya disesuaikan dengan gaya belajar siswa dan kemampuan guru
5) Pemilihan media haruslah sesuai dengan
kondisi lingkungan, fasilitas dan waktu yang tersedia untuk kebutuhan
pembelajaran
Selain prinsip
tersebut, ada beberapa hal lain yang dapat menjadi pertimbangan dalam memilih
media, yang dikenal dengan istilah ACTION (Wina Sanjaya, 2011), yaitu :
1) Access, kemudahan akses,
penggunaan media oleh guru dan siswa, kebijakan, dll.
2) Cost, biaya yang
dibutuhkan, yang disesuaikan dengan kemampuan dan pemanfaatannya.
3) Technology,
mempertimbangkan teknologi yang tersedia dan kemuadahan penggunaannya.
4) Interactivity, Media
berssifat interaktif, sehingga memberi komunikasi dua arah.
5) Organization, terkait
dukungan organisasi, pimpinan, dan pengorganisasiannya.
6) Novelty, meliputi
kebaruan media yang kita pilih.
b. Prinsip-prinsip Penggunaan Media
Pembelajaran
Untuk
menggunakan media dalam pembelajaran, aagar media benar-benar mendukung proses
pembelajarn, maka ada beberapa prinsip penggunaan media (Wina Sanjaya, 2011)
yaitu :
1)
Media yang digunakan guru haruslah
sesuai dan diarahkan untuk mencapai tujuan pembelajaran.
2)
Media yang digunakan haruslah sesuai
dengan materi pembelajaran, media hendaklah sesuai dengan kekompleksitasan
materi
3)
Media
pembelajaran haruslah sesuai dengan minat, kebutuhan dan kondisi siswa.
4)
Media yang
digunakan harus memperhatikan efektivitas dan efisien.
5)
Media yang digunakan haruslah sesuai
dengan kemampuan guru menggunakannya/mengoperasikannya.
Dari berbagai
prinsip –prinsip ini dapat ditarik kesimpulan bahwa ada banyak prinsip yang
perlu kita perhatikan, yang pada intinya adalah pemilihan dan penggunaan media
harus sesuai dengan kebutuhan, tujuan, karakteristik siswa, serta akses
penggunaan media tersebut.
D. MODEL
ASSURE
Penggunaan teknologi dan media dalam pembelajaran merupakan suatu hal yang sangat penting. Namun untuk memilih dan
menggunakan suatu media ada banyak hal yang perlu kita perhatikan, terutama
berkatian dengan tujuan, materi dan karakteristik siswa. Hal ini sangat penting
karena sesuai dengan pengertian media, yang merupakan sarana yang mengantarai penyampaian
pesan dari guru kepada siswa.
Model
ASSURE merupakan langkah merancanakan pelaksanaan pembelajaran di ruang kelas
secara sistematis dengan memadukan penggunaan terknologi dan media. Model
ASSURE menggunakan tahap demi tahap untuk membuat perancangan pembelajaran yang
dapat dilihat dari nama model tersebut, yaitu ASSURE. Menurut Smaldino
(2007:86) A yang berarti Analyze learners, S berarti State
standard and Objectives, S yang kedua berarti Select strategi,
technology, media, and materials, U berarti Utilize technology, media
and maerials, R berarti Require learner participation dan E
berarti Evaluated and revise.
Model ASSURE
merupakan suatu model untuk merancang pengajaran yang efektif, yang dirancang
dimulai dengan menganalisis minat siswa, penyajian materi, malibatkan siswa
dalam praktek dengan umpan balik, menilai pemahaman mereka dan memberikan
kegiatan tindak lanjut yang relevan (Smaldino, 2012). Dengan model ASSURE ini
guru bisa merancang pembelajaran dengan menggunakan media pembelajaran dengan
lebih baik, karena meliputi semua hal yang dibutuhkan dalam kegiatan
pembelajaran.
1.
Analisis Pelajar (Analysis Learner)
Model ASSURE
merupakan salah satu pendekatan sistematis untuk menganalisis karakteristik
siswa, yang nantinya akan berpengaruh terhadap kemampuan belajar siswa.
Analisis siswa ini perlu dilakukan untuk mendapatkan berbagai informasi yang
kita butuhkan dalam merancang strategi pembelajaran yang dapat memenuhi
kebutuhan spesifik siswa. Ada tiga faktor kunci yang diperhatikan dalam
analisis pelajar, yaitu :
a.
Karakteristik Umum
Untuk memenuhi
kebutuhan siswa guru perlu memahami karakteristik umum yang mempengaruhi
belajar siswa. Adapun berbagai jenis karakteristik umum ini adalah gender,
suku, sikap dan ketertarikan. Dalam merencanakan pembelajaran guru hendaknya dapat
memperhatikan perbedaan usia anak didiknya, karena ini akan berkaitan dengan
pola perilaku dan kemampuan siswa dalam belajar. Begitu juga dengan gender, ini
perlu dipertimbangkan guru saat ingin mengadakan pembelajaran berkelompok pada
tingkat SMP, penyatuan siswa dengan perbedaan gender mungkin akan mempengaruhi
perhatian dan keaktifan siswa. Hal yang sama pada latar belakang suku,
hendaknya materi yang disampaikan siswa dilengkapi dengan contoh yang dekat
dengan latar belakang suku dan budaya siswa.
Sedangkan untuk
analisis sikap dan ketertarikkan dapat dilihat dengan melakukan perbincangan
dan mengamati perilaku siswa. Ketertatikan siswa terhadap mata pelajaran memang
berbeda-beda, karenanya dibutuhkan penggunaan media yang tepat , begitu juga
halnya dengan pengalaman mereka.
b.
Kecakapan dasar spesifik
Sebagaimana
yang diungkapkan Dick &Carey,(2001) dalam Smaldino (2012) penelitian
mengungkapkan bahwa pengetahuan yang telah dimiliki siswa sebelumnya tentang
suatu objek tertentu mempengaruhi bagaimana dan apa yang mereka bisa pelajari
lebih banyak daripada yang dilakukan sifat psikologi apa pun. Karena itulah
penting bagi guru untuk menganalisis kecakapan dasar spesifik melalui sarana
formal dan informal. Misalnya melalui pelaksanan ujian masuk, untuk melihat
kemmapuan prayarat siswa, yang dibutuhkan untuk mengikuti pembelajaran. Dengan
mengidentifikasi kompetensi dasar spesifik siswa guru bisa menyesuaikan dnegan
jenis tujuan, sehingga guru bisa memberikan perbaikan sebelum masuk mata
pelajaran.
c.
Gaya belajar
Gaya belajar
merupakan serangkaian sifat psikologis yang menetukan bagaimana siswa merasa,
berinteraksi, dan merespons secara emosional lingkungan belajarnya. Menurut
Gardner (Smaldino, 2008) Setiap anak memiliki kecerdasan dan cara belajar yang
berbeda beda, karenanya guru haruslah mempertimbangkan gaya belajar siswa.
Dengan memahami:
1) Kekuatan dan
preferensi konseptual, dimana setiap siswa punya gerbang sensorik (visual,
audiotori, jasmani dan kinestetik yang berbeda yang mempengaruhi keterlibatan belajarnya.
2) Kebiasaan memproses informasi /gaya
pikiran, menurut Butler (Smaldino, 2008) ada 4 cara pemprosesan informasi,
yaitu pelajar berurutan konkret, pelajar acak konkret, pelajar berutan abstrak,
pelajar acak abstrak.
3) Motivasi,
Menurut Keller (1987)(dalam Smaldino 2008) ada 4 aspek motivasi yaitu model
ARCS yang perlu diperhatikan guru, yaitu bperhatian (attention), Relevansi
(Relevance), Percaya diri (Confidence), dan kepuasan (satisfaction).
4) Faktor
fisiologis , terkait dengan perbedaan gender, kesehatan dan kondisi lingkungan
yang mempengaruhi pembelajaran.
Penilaian gaya
belajar, menurut Dunn dan Dunn(1992)(dalam Smaldino 2008) mengembangkan
sekumpulan instrumen standar untuk menilai gaya belajar dan preferensi
lingkungan para pelajar.
Semua ini perlu
dipertimbangkan oleh guru, agar guru bisa menyesuaikan pembelajarannya dengan
lebih baik, sesuai dengan gaya belajar siswa dan memenuhi kebutuhan individual
siswa.
2.
Menyatakan
Standar dan Tujuan (State Objectives and Standar)
Dalam merancang
suatu pembelajaran, setelah melakukan analisis siswa, kita perlu menetapkan
standar dan tujuan yang akan dicapai, yakni mengenai apa yang menjadi hasil
belajar siswa. Merumuskan tujuan ini
berdasarkan pada standar kurikulum yang digunakan di sekolah.
a. Pentingnya standar dan tujuan
Menetapkan standar dan tujuan sangatlah
penting, karena standar dan tujuan ini adalah dasar bagi kita untuk memilih
strategi, teknologi dan media yang akan digunakan dalam pembelajaran. Dasar untuk melakukan penilaian hasil
belajar, dasar untuk ekspektasi belajar siswa.
b. Merumuskan ABCD tujuan belajar dengna
baik
Untuk
menentukan tujuan belajar kita perlu menetapkan ABCD, Yakni:
1) Audience, yakni sasaran
tujuan, guru perlu menentukan dengan jelas sasaran dari tujuan pembelajaran itu
sendiri, misalnya siswa kelas VII SMP.
2) Behaviour (perilaku),
inti dari tujuan adalah kata kerja yang menjelaskan kemampuan baru yang
didapatkan siswa setelah mengikuti pembelajaran, artinya tujuan belajar itu
berkenaan dengan perubahan perilaku siswa, setelah mengalami pembelajaran.
3) Condition (Kondisi),
yakni suatu kondisi dimana siswa akan bekerja dan belajar, yang kemudian
dinilai oleh guru, misalnya buku, lembar kerja, dll.
4) Degree (tingkat),
yakni tujuan mengindikasikan standar /kriteria penilaian satu pembelajaran.
c. Tujuan belajar dan perbedaan individual
Tujuan belajar hendaknya disesuaikan
dengan kemampuan belajar siswa secara individual. Tujuan belajar dimaksudkan
untuk menyediakan tingkat minimum pencapaian yang diharapkan. Dengan
karakteristik yang berbeda siswa bisa belajar insidental dengan tujuan yang
spesifik dan mendukung perbedaan individual.
3.
Memilih
strategi, Teknologi, Media dan Material (Select Strategy, Media and Technology)
a. Memilih strategi
Guru perlu
memilih strategi pengajaran yang tepat, baik itu strategi yang berpusat pada
guru, ataupun yang berpusat kepada siswa. Guru hendaklah memilih strategi yang
bisa mendorong siswanya mencapai standar dan tujuan yang telah ditetapkan,
mempertimbangkan gaya dan motivasi belajar siswa agar dapat memenuhi kebutuhan
siswa. Disesuaikan dengan model ARCS,
Strategi kita hendaknya dapat menarik perhatian siswa (Attention), relevan(Relevance)
dengan kebutuhan siswa, dapat membangun rasa percaya diri (Confidence) siswa, dan
memberikan kepuasan (Satisfaction) bagi siswa atas apa yang telah mereka pelajari.
b. Memilih teknologi dan media,
Memilih
teknologi dan media, memang bukanlah hal yang mudah. Seperti yang diungkapkan
Mc Alpine&Weston, 1994 (dalam Smaldino2008) para sarjana sepakat bahwa
memilih teknologi dan media yang sesuai bisa menjadi tugas yang rumit-
mempertimbangkan kumpulan sumber daya yang tersedia, keberagaman para pelajar
dan tujuan spesifik yang harus dicapai.
Rubrik seleksi, dilengkapi prosedur yang sistematis untuk menilai
kualitas teknologi dan media yang spesifik. Setiap rubrik terdiri dari
sekumpulan kriteria seleksi yang konsisten, dan kriteria untuk teknologi dan
media yang dirancang.untuk mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan
sebelumnya. Ada beberapa kriteria rubrik seleksi (Smaldino, 2012)yaitu :
a) Selaras dengan
standar, hasil dan tujuan
b) Informasi yang
terbaru dan akurat
c) Bahasa yang sesuai usia
d) Tingkat ketertarikan dan keterlibatan
e) Kualitas teknik
f) Mudah digunakan (baik oleh guru dan
siswa)
g) Bebas bias
h) Panduan pengguna dan arahan.
c. Memilih, mengubah atau merancang materi
Setelah memilih
strategi dan media, selanjutnya kita memilih materi, yakni :
1) Memilih materi yang tersedia
Guru biasanya
menggunakan materi yang tersedia, namun kita perlu mempertimbangkan dan memilih
materi yang tepat dari materi yang tersedia tersebut, yang bisa dilakukan
dengan cara; melibatkan spesialis teknologi /media, atau melibatkan guru lain
yang lebih berpengalaman, melakukan survei panduan referensi sumber dan media
(komprehensif, selektif dan evaluatif).
2) Mengubah materi yang ada
Mengingat
kebutuhan siswa yang berbeda-beda, adakala nya guru bisa mengubah materi dari
materi yang tersdia agar dapat lebih mencapai tujuan pembelajaran yang telah
ditetapkan, namun hal ini harus mmeperhatikan hak cipta.
3) Merancang materi baru
Pada saat
materi yang tersedia tidak mendukung, dan sulit untuk mengubah materi yang ada,
maka guru juga dapt menrancang materi baru sesuai dengan mata pelajaran dan
tujuan pembelajaran. kuncinya adalah kita harus memperhatikan kebutuhan dan
tujuan belajar siswa kita.
4.
Menggunakan
Teknologi , Media dan Materi (Use Tecnhnology, Media and Materials)
Untuk merencanakan penggunaan
teknologi, media dan materi, kita dapat melakukan proses “5P” yaitu:
1) Pratinjau
teknologi, media dan materi, ini perlu dilakukan karena tujuannnya
adalah untuk memilih bagian yang langsung selaras dengan mata pelajaran yang
kita ajarkan, yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Meninjau materi secara
menyeluruh tidak hanya membuat kita menggunakan sumber daya secara maksimal,
tetapi juga membatasi siswa untuk tidak mengkases materi/konten yang tidak
pantas, dari berbagai media dan sumber belajar lainnya.
2) Menyiapkan
teknologi , media dan materi, langkah pertama adalah mengumpulkan
semua perlengkapan yang dibutuhkan, menentukan urutan penggunaannya, dan
menentukan tindakan yang akan dilakukan pada tiap materi, menyimpan daftar
materi yang digunakan, dan garis besar urutan penyajian pelajaran.
3) Menyiapkan
lingkungan, kita perlu mengatur fasilitas yang dibutuhkan untuk penggunaan
teknologi, media dan materi yang efektif dan efisien, menyiapkan lingkungan
belajar yang baik untuk siswa, seperti pengaturan tempat duduknya, dll.
4) Menyiapkan
pelajar, untuk melaksanakan pembelajaran dengan efektif, guru
perlu menyiapkan pelajarnya untuk menerima pelajaran, untuk itu guru perlu
melakukan appersepsi yang baik, seperti
pengantar yang menggambarkan tinjauan luas mengenai konten mata pelajaran,
keterkkaitan mata pelajaran dengan topik
yang dipelajari, memotivasi siswa, dan isyarat yang mengarahkan perhatian pada
aspek spesifik mata pelajaran.
5) Menyediakan
pengalaman belajar, yang disesuaikan dnegan pengalaman
belajar yang dipilih, pengalaman belajar yang berpusat pada guru, maka akan
melibatkan presentasi, demonstrasi, latihan dan praktek dan tutorial.
5.
Mengharuskan Partisipasi Pelajar
(Require Learner Participations)
Pembelajaran di masa depan menghendaki
pelajar tidak hanya sebatas memahami informasi, melainkan memiliki pengalaman
dan praktek menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi. Hal ini
sesuai dengan gagasan konstruktivis, dimana belajar dibangun dengan penglaman
autentik yang relevan, dan siswa menerima umpan balik, sehingga mereka
mengetahui pencapaian tujuan belajarnya dan berusaha meningkatkan kinerjanya.
a. Latihan, untuk
mencapai tujuan belajarnya siswa haruslah berpartisipasi aktif melalui praktek
langsung dengan teknologi dan kemampuan baru, untuk produktivitas, komunikasi,
penelitian, dan penyelesaian masalah/pengambilan keputusan.
1)
Teknologi sebagai perkakas teknologi, untuk
menggunakan teknologi dan media sebagai sarana yang membutuhkan partisipasi
siswa adalah dengan penggunaan perangkat produktivitas. Karena ini dapat memacu dan mendorong kreativitas (ISTE, 2000)
(Dalam Smaldino, 2008)
2)
Teknologi sebagai perangkat komunikasi, dengan
menggunakan teknologi siswa bisa berkomunikasi dengan berbagai orang dari
berbagai tempat lainnya, misalnya melalui email , chatt, dan lain-lain.
3)
Teknologi sebagai perangkat penelitian, dengan
teknologi kita dapat menempatkan, mengevaluasi, dan mengumpulkan berbagai
informasi dari berbagai sumber , misalnya dari internet, buku, koran maupun
media lainnya.
4)
Teknologi sebagai perangkat
penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan, dengan
menggunan teknologi siswa dapat belajar dan mnggunakannnya untuk menyelesaikan
berbagi persoalan, misalnya melalui mikroskop, lembar kerja, peralatan
audio dan video digital, dll.
5)
Menggunakan perangkat lunak pendidikan, berbagai
program aplikasi pendidikan memungkinkan siswa terlibat aktif dalam berbagai
kegiatan yang menantang, dan memungkinkan siswa untuk berkembang sesuai dengan
penilaian dan menyediakan umpan balik dan perbaikan.
6)
Menggunakan
media lainnya untuk latihan, melibatkan siswa secara aktif dalam melakukan
diskusi, kuis, latihan penerapan dapat dilakukan latihan dan pemberian umpan
balik.
b. Umpan balik,
Umpan balik,
bisa dari guru, ataupun para siswa dalam kelompoknya, dari komputer ataupun
diri mereka sendiri, umpan balik penting bagi siswa untuk melakukan perbaikan.
6.
Mengevaluasi
dan Merevisi (Evaluate and Revise)
Langkah
terakhir yang kita lakukan adalah melakukan penilaian dan perbaikan, yang
dilakukan dengan tujuan :
a. Menilai
prestasi pelajar , dilakukan untuk menilai apa yang
dipelajari siswa dan menampilkan perubahan perilaku sesuai dengan tujuan.
Penilaian dilakukan berdasarkan pada tujuan belajar, pembelajaran dengan tujuan
kemampuan kognitif, dapat menggunakan tes tertulis, namun untuk tujuan
pemprosesan informasi dan penampilan sikap, maka digunakan penilaian autentik
dan komprehensif. Penilaian autentik yaitu dimana siswa menggunakan proses
sesuai dengan konten dan kemampuan yang sedang dipelajari dan sesuai kegunaan konten di dunia nyata. Penilaian ini
digunakan untuk penilaian kinerja, produk tunggal, unit, atau portofolio. Sedangkan
untuk penilaian komprehensif dapat menggunakan rubrik yakni sekumpulan kriteria
penilaian yang digunakan untuk mengukur/menilai produk/kinerja siswa(Smaldino,
2012). Rubrik terdiri dari tiga komponen ; kriteria kinerja, skala penilaian,
dan tingkat dari deskriptor kinerja.
b. Penilaian
portofolio, untuk menilai kemampuan siswa untuk membuat produk nyata
yang menggambarkan pencapaian mereka terkait dengan analisis, sintesis dan
evaluasi.(Smalldino, 2012). Kuncinya adalah siswa harus merefleksi sendiri
pembelajarannnya sesuai dengan produk protofolio. Portofolio ini ada yang
tradisional dan elekronik.
c. Mengevaluasi dan merevisi Strategi,
Teknologi dan Media.
Ini perlu
dilakukan untuk melihat keefektifan strategi , teknologi, dan media yang
digunakan, melihat pencapaian tujuan pembelajaran, sesuai dengan minat siswa,
memenuhi kebutuhan siswa, dll. Untuk menilainya, bisa dengan meminta pendapat
siswa, melalui diskusi dan wawancara.
1. Evaluasi guru,
ini sangat penting agar memberikan umpan balik yang bermanfaat bagi guru. Ada 4
evaluasi guru, yakni melalui diri sendiri, siswa, rekan ataupun administator.
2. Revisi
strategi, teknologi dan media, Ini merupakan tahapan terakhir, kita perlu
melihat hasil penilaian/evaluasi, melihat ketercapaian tujuan, prestasi siswa,
ketepatan strategi, teknologi dan media. Kita perlu mencatat dan melakukan
revisi agar dapat meningkatkan kualitas pembelajaran .
BAB
III
PENERAPAN MODEL ASSURE DALAM RANCANGAN PEMBELAJARAN IPS
KELAS VIII SMP NEGERI 1 MUARA
BUNGO
- Analyzis Learner (Menganalisis Siswa )
1.
Kondisi Umum sekolah dan siswa
SMP Negeri 1 Muara bungo merupakan SMP
tertua di kabupaten
Bungo Provinsi Jambi. Sekolah ini
terletak di Jln. Jendral
Sudirman No 714 , yang merupakan jalur lintas Sumatera. Sekolah ini
termasuk salah satu sekolah favorit siswa di wilayah ini, dan berstatus sebagai
sekolah SSN (Sekolah Standar Nasional). Posisi sekolah yang tepat berada di
tepi jalan raya, membuat letak sekolah ini cukup strategis dan dapat dijangkau
dari berbagai wilayah di kabupaten
bungo. Namun tentu kondisi ini, juga memberikan dampak bagi sekolah, terutama
soal kebisingan jalan, yang terkadang menimbulkan gangguan dalam pelaksanaan
proses pembelajaran. Kondisi sekolah ini
cukup baik, dilengkapi dengan sarana dan infrastruktur sekolah yang cukup
lengkap, dengan luas ±8725 m³. Sekolah
ini terdiri atas 27 ruang kelas, 3
ruang kantor (ruang kepala sekolah, majelis guru dan tata usaha), 1
perpustakaan, 3 labor (fisika, biologi dan TIK), 1 ruang multimedia, 1 ruangan sanggar tari, lapangan
basket, lapangan voly dan 1 mushalla.
Sedangkan dari bidang sumber daya
manusianya, di SMP N 1 Muara
Bungo ini terdapat 85 orang guru,
yang terdiri dari 50 orang guru PNS
dan 18 orang guru
honorer, serta 15 orang pegawai
tata usaha dan 2
orang satpam
Pembelajaran
TIK dilaksanakan di kelas dan di labor komputer. Labor komputer sekolah ini
berukuran sekitar 6x4 m². Labor ini dilengkapi dengan 25 unit komputer,
namun yang saat ini dapat digunakan efektif hanya 20 unit komputer.
Labor ini dilengkapi dengan kursi dan meja yang cukup lengkap untuk siswa dan
guru, 2 unit LCD proyektor, 1 papan
tulis. Ruangan ini juga dilengkapi dengan AC.
Kondisi siswa
di SMP N 1 Muara
Bungo, secara keseluruhan siswa yang bersekolah disini adalah siswa yang berasal
dari beberapa Sekolah Dasar di seluruh Kabupaten Muara Bungo, karena
sekolah ini bebas rayon, kecuali untuk tahun pelajaran 2013/2014 yang akan
datang, sekolah akan kembali menggunakan sistem rayonisasi. Untuk tahun ajaran
2012/2013 jumlah seluruh siswa disekolah ini adalah 890 orang siswa,
yang terdiri atas 312 siswa kelas
VII, 270 orang siswa
kelas VIII, dan 208 orang siswa
kelas IX. Setiap kelas terdiri atas 30-35 orang siswa,
yang pada umumnya lebih banyak perempuan daripada laki-laki, dengan rentang
umur antara 12-14 tahun.
Sekolah ini
juga menerapkan program kelas unggul pada setiap tingkat, untuk penentuan siswa
yang duduk di lokal ini dilihat berdasarkan nilai ujian masuk, dan nilai rapor
disetiap semester. Ini berarti seluruh
siswa punya kesempatan yang sama untuk menduduki kelas unggul. Untuk gurunya
sendiri, tidak dibedakan antara kelas unggul dan kelas biasa, pada umumnya
masih menggunakan guru yang sama.
Dilihat dari
latar belakang kondisi ekonomi dan keluarga siswa, siswa disekolah ini terbagi
atas anak dengan latar belakang orang tua sebagai pegawai, sebagai petani,
sebagai nelayan dan pedagang. Sedangkan dari latar agama, siswa disekolah ini
seluruhnya beragama islam, dan sebagaian
besar merupakan suku minang. Dengan latar belakang yang berbeda-beda ini
anak-anak tumbuh dan berkembang dengan pola dan didikan keluarga yang berbeda
juga, sehingga setiap anak memiliki karakter yang berbeda pula. Dengan
perbedaan karakteristik ini, manjadi panduan awal bagi penulis untuk merancang
sebuah model pembelajaran yang menggunakan teknologi dan media pembelajaran
dengan berdasarkan model ASSURE.
2.
Kondisi Khusus
siswa
Siswa SMP N 1 Muara Bungo, khususnya di
kelas VII, terdiri dari kelas VII.1 sampai VII.9 dan Kelas VII.8 merupakan kelas unggul.
Dari 312 orang siswa
kelas VII, terdiri atas 122 orang siswa
laki-laki dan 190 orang siswa
perempuan. Sebagian besar siswa kelas VII ini berasal dari latar belakang
ekonomi dan keluarga yang cukup baik, walaupun ada beberapa orang siswa yang
tergolong kurang mampu, namun mereka mendapatkan beasiswa dari berbagai program
sekolah dan pemerintah. Dengan rentangan umur 12-13 tahun, maka dari
perkembangan psikologisnya, biasanya anak-anak seusia ini mengalami masa
puberitas, sehingga guru harus benar-benar bisa menyesuaikan dengan kondisi
psikologis siswa ini.
Secara khusus, siswa kelas VII ini adalah
siswa yang dinyatakan naik dari kelas sebelumnya, kelas VII, sehingga mereka
sudah cukup beradaptasi dengan lingkungan dan sistem pendidikan di sekolah ini.
Untuk proses pembelajaran IPS
sendirir. Untuk menilai/menganalisis kemampuan awal siswa
ini, guru dapat mengetahuinya dengan memberikan berbagai pertanyaan-pertanyaan
di awal pembelajaran atau memberikan kuis kecil untuk menguji sejauh mana
pengetahuan siswa tentang pelajaran
yang diberikan oleh guru.
Siswa kelas VII SMP Negeri 1 Muara Bungo merupakan tahap
operasional konkret dengan kisaran usia 11-13 tahun menurut teori Piaget.
Karakteristik anak kelas VII SMP Negeri 1 Muara Bungo adalah senang melakukan
belajar dengan melakukan sesuatu kegaiatan (learning
by doing). Pada tahap ini siswa melalui mengasimilasi (menghubungkan objek
dengan konsep yang sudah ada dalam pikiran) dan akomodasi (proses memanfaatkan
konsep-konsep dalam pikiran untuk menafsirkan objek). Kedua proses tersebut
jika berlangsung terus menerus akan membuat pengetahuan lama dan pengetahuan
baru menjadi seimbang. Dengan cara seperti itu secara bertahap anak dapat
membangun pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungannya
Pada usia ini anak sudah mulai mampu berpikir logis dalam
bentuk sederhana, anak sudah menyadari adanya masa lalu, masa kini, dan masa
yang akan datang, dan juga anak sudah mampu mengimajinasikan sesuatu, meskipun
biasanya masih memerlukan bantuan objek-objek kongkret. Dalam hal ini Keterampilan
berfikir logis dan kritis serta mampu menanggapi permasalahan atau peristiwa yang ada di lingkungan sekitar amat
diperlukan dalam pengembangan pembelajaran.
3.
Gaya Belajar
Gaya belajar siswa kelas VII SMP N 1 Muara Bungo cukup beragam.
Ada 9 aspek kecerdasan majemuk, yakni verbal, logis, visual, musikal, ragawi,
antar personal, interpersonal, naturalis dan eksistensialis. Dari 9 kecerdasan
ini, dalam proses pembelajaran ada anak yang senang mendengar penjelasan guru,
ada yang lebih ke kinestetik, dll. Pada pengajaran teori yang dilakukan dikelas
umumnya menggunakan preferensi penerimaan audiotori dan visual. Sedangkan dalam
hal kebiasaan memproses informasi/gaya pikiran, secara umum siswa kelas VII ini
banyak dengan gaya berurutan konkret, karena mereka akan lebih memahami jika
sudah dicontohkan.
Dari segi
motivasi, sesuai dengan model ARCS, siswa di sekolah memiliki motivasi tinggi
dalam belajar, ini terlihat dari semangat belajar dan keingintahuan mereka
untuk belajar tentang keragaman bentuk
bumi, dan mereka sangat tertarik dengan pelajaran IPS. Materi yang
akan dibahas dalam rancangan ini, adalah materi semester 1, yaitu tentang Memahami lingkungan kehidupan manusia.
Mengingat siswa
kelas VII ini secara psikologis mengalami masa puberitas, sehingga mereka
mempunyai pola/gaya belajar yang berbeda-beda, namun pada umumnya mereka selalu
ingin diperhatikan. Dengan usia ini mereka masih senang bermain, sehingga ini
juga mempengaruhi pembelajaran, karena itu, guru perlu merancang pembelajaran
yang sesuai dengan perbedaan individual
siswa ini, dan memenuhi kebutuhan siswa, sehingga pembelajaran memberikan hasil
yang memuaskan bagi siswa.
- Menetapkan Standar dan Tujuan
Proses pembelajaran di SMP N 1 Muara Bungo dilaksanakan
sesuai dengan kurikulum KTSP. Setiap
guru harus membuat rancangan program pembelajaran setiap semesternya, yang
nantinya akan dinilai sebagai dokumen KTSP oleh pengawas sekolah. Pelaksanaan mata pelajaran IPS dilaksanakan sesuai dengan tuntutan
Kurikulum. Sesuai dengan model ASSURE, guru haruslah menetapkan standar dan
tujuan pembelajaran. Standar dan tujuan hendaklah disampaikan dan dituliskan di
awal pembelajaran, sehingga siswa mengetahui pengetahuan dan kemampuan apa yang
harusnya mereka miliki setelah mempelajari materi pelaran. Guru dapat
menetapkan tujuan dengan memperhatikan ABCD, yaitu :
ü A (Audience), siswa yang
menjadi tujuan /sasaran pembelajaran adalah siswa kelas VII.
ü B (Behaviour), perilaku yang
harus ditampilkan siswa adalah memiliki keterampikan dan kemahiran dalam membaca Peta
ü C (Condition), kondisi ini
dapat diamati selama siswa belajar dikelas
ü D (Degree), kemampuan yang
harus dimiliki siswa setelah belajar ini mereka menguasai pelajaran dan bisa menjelaskan
bentuk permukaan bumi.
a. Penetapan Tujuan Umum (Standar
Kompetensi)
Tujuan
umum rancangan pembelajaran berdasarkan
model Assure ini adalah Memahami lingkungan kehidupan manusia. Dengan
salah satu kompetensi dasar : Mendiskripsikan keragaman bentuk muka bumi, proses
pembentukan dan dampaknya terhadap
kehidupan..
b. Penetapan Tujuan
Pembelajaran Khusus
Berdasarkan
tujuan pembelajaran umum rancangan pembelajaran berdasarkan model ASSURE ini,
berikutnya ditetapkan tujuan pembelajaran khusus, yaitu Mendiskripsikan
keragaman bentuk muka bumi, proses pembentukan dan dampaknya terhadap kehidupan.
Tujuan pembelajaran khusus ini, akan dirinci dalam beberapa indikator, yaitu :
1. Siswa
mampu Menjelaskan proses alam endogen yang menyebabkan
terjadinya bentuk muka bumi.
2. Siswa mampu Menjelaskan
gejala diastropisme dan vulkanisme..
Setiap
tujuan umum, tujuan khusus dan indikator ini haruslah dituliskan dalam setiap
rancangan pelaksanaan pembelajaran (RPP). Selain standar kompetensi dan
kompetensi dasar, di awal perancangan guru juga perlu menentukan kriteria
ketuntasan minimal (KKM) mata pelajaran untuk materi tersebut. Dengan begitu
siswa mengetahui dengan jelas apa tujuan mereka mempelajari materi ini,
kemampuan/hasil belajar apa yang nantinya diharapkan mereka miliki setelah
belajar dan mereka mengetahui batas ketuntasan minimal belajar mereka.
- Memilih Strategi , Teknologi , Media dan Material
Suatu
rencana yang sistematik dalam penggunaan media dan teknologi tentu menuntut
agar metode, media dan materinya dipilih secara sistematis pula. Proses
pemilihannya melibatkan tiga langkah.
- Memilih Metode
·
Metode
ceramah adalah metode memberikan uraian atau penjelasan kepada siswa untuk
menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Dengan kata lain metode ini
adalah sebuah metode mengajar dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan
secara lisan kepada siswa.
·
Metode
Tanya jawab dilakukan dalam bentuk sejumlah pertanyaan yang harus dijawab oleh
siswa, terutama oleh siswa dari guru, tetapi ada pula dari siswa kepada guru.
Hal ini digunakan untuk memberikan pemahaman (kognitif) siswa untuk materi yang
membutuhkan pemahaman siswa
·
Metode
diskusi adalah suatu cara mengajar dengan cara memecahkan masalah yang
dihadapi, baik dua orang atau lebih yang masing-masing mengajukan
argumentasinya untuk memperkuat pendapatnya. Tujuan berdiskusi pada
pembelajaran ini yaitu mendidik siswa untuk berfikir dan memecahkan masalah
secara bersama-sama sebagai bentuk dari nilai karakter yang ingin diterapkan
oleh guru.
·
Metode
pemberian tugas
merupakan suatu cara mengajar dengan
cara memberikan sejumlah tugas yang diberikan guru kepada murid dan adanya
pertanggungjawaban terhadap hasilnya. Dalam pembelajaran ini siswa secara
berkelompok ditugaskan untuk observasi langsung ke lingkungan masyarakat untuk
mendapatkan kompetensi yang relevan. Hal ini sesuai dengan karakteristik siswa
adalah senang melakukan belajar dengan melakukan sesuatu kegaiatan (learning by doing) selai itu guru juga
mempunyai tujuan lain selain yaitu penanaman nilai karakter yang harus di
miliki oleh siswa.
- Memilih Format Media
Pada kegiatan pembelajaran menggunakan model ASSURE, media
yang digunakan berupa:
a.
buku
teks yang relevan
b.
peta dunia dan peta
negara Indonesia
c.
LCD
d.
Video
dan foto/gambar
- Materi pembelajaran
·
Proses alam endogen terhadap
pembentukan muka bumi.
·
Gejala disatropisme dann vulkanisme
·
Tipe-tipe gunung menurut bentuknya.
·
Faktor
penyebab terjadinya gempa bumi.
·
Jenis-jenis
batuan menuurut proses pembentukannya.
·
Proses
pelapukan.
·
Faktor penyebab
terjadinya erosi.
·
Hasil bentukan
dari proses sedimentasi.
·
Dampak positif
dan negatif dari tenaga endogen dan eksogen.
- Menggunakan Teknologi, Media dan Materi
Adapun penggunaan teknologi, media dan
materi pada rancangan pembelajaran TIK
kelas VIII berdasarkan model ASSURE ini dilakukan dengan proses “5P”, yaitu :
- Pratinjau Teknologi, Media, dan Materi
Guru melakukan
pratinjau untuk menyesuaikan penggunaan teknologi, media dan materi yang disesuaikan
dengan tujuan pembelajaran. Tujuannya untuk memilih bagian yang paling sesuai
dengan pelajaran.
- Menyiapkan Teknologi , Media dan Materi
Pada tahap ini,
guru menyiapkan segala teknologi, media dan materi yang akan digunakan untuk pembelajaran. Guru mengurutkan materi tentang proses pembentukan bumi ,
kemudian menyiapkan contoh yang dirancang sendiri foto-foto dan video yang berhubungan dgn
pembentukan bumi, dengan menggunakan LCD serta proyektor yang
mendukung proses penyampaian pembelajaran.
- Menyiapkan Lingkungan
Disini guru menyiapkan lingkungan belajar
siswa, sesuai dengan materi pelajarannya, siswa melakukan diskusi kelompok tentang materi yang diberikan oleh guru.
- Menyiapkan Pelajar
Untuk dapat
menguasai pelajaran ini, guru menyiapkan pelajar dengan memberikan appersepsi
terlebih dahulu. Hal ini bertujuan agar anak siap untuk bekerja, mengetahui
dengan jelas apa yang akan mereka kerjakan, apa kegunaannya, dan ini juga
memotivasi siswa untuk dapat mencapai tujuan belajarnya.
- Menyediakan Pengalaman Belajar
Dengan strategi
pembelajaran yang berpusat pada guru dan siswa, ini akan menyediakan pengalaman
belajar bagi siswa. Dengan penjelasan guru, kemudian siswa mencobakan langsung,
ini sudah menjadi pengalaman belajar siswa, siswa tidak dilarang untuk salah,
namun siswa diajarkan untuk memperbaiki kesalahan di setiap langkah
pembelajaran selama mereka melakukan praktek. Dengan melakukan sendiri setiap
bagian secara bergantian dengan anggota kelompok ini juga menumbuhkan rasa
kerjasama dan menjadi pengalaman sendiri bagi siswa,
- Mengharuskan Partisipasi Pelajar (Require Learner Participations)
Partisipasi berisi
kegiatan siswa dalam pembelajaran yang akan dilaksanakan. Sebelum masuk kedalam kelas siswa dibiasakan (disiplin) berbaris
rapi di depan kelas lalu secara bergiliran masuk ke dalam kelas dengan terlebih
dahulu menghormati guru yang ada di depan pintu dengan mencium tangan (santun).
Guru mengkondisikan kelas sampai siswa siap dalam belajar (nyaman). Pada
kegatan awal guru melakukan apersepsi dengan menanyakan keadaan siswa serta
menyampaikan tujuan dan manfaat pembelajaran.
Pada kegiatan inti siswa dan guru
melakukan tanya jawab sehubungan dengan pengertian kegiatan ekonomi dimaksudkan
untuk menumbuhkan sikap afektif dan kognitif siswa. Selanjutnya siswa dibentuk
kelompok heterogen maksimal 4 anak untuk mengerjakan tugas kelompok dengan
mengidentifikasi media gambar dan peta selanjutnya mengasimilasi yaitu menghubungkan
objek dengan konsep yang sudah ada dalam pikiran dan akomodasi yaitu proses
memanfaatkan konsep-konsep dalam pikiran untuk menafsirkan objek selain itu
guru bertujuan untuk membentuk nilai karakter demokratis, menghargai prestasi dan
bersahabat antar siswa.
Selanjutnya perwakilan setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi dan
kelompok lain berkewajiban menanggapi. Nilai karakter yang ingin dimunculkan
pada persentasi kelompok yaitu nilai toleransi, komunikatif dan tanggung
jawab. Selanjutnya siswa dan guru
menyamakan persepsi.
Tahan
akhir siswa bersama guru melakukan tanya jawab sehubungan dengan kompetensi
yang diperoleh siswa pada saat pembelajaran. Selanjutnya siswa diberikan tugas
pengamatan secara kelompok ke lingkungan sekitar sehubungan dengan materi yang
telah dipelajari untuk dikumpulkan dan dipersentasikan pada pertemuan
selanjutnya. Pada kegiatan pengamatan ini guru bertujuan untuk siswa mampu
mengkonstruksi konsep sehingga mampu mengkaitkan dengan kehidupan nyata selain
itu guru bertujuan untuk siswa bisa menumbuhkan nilai karakter antara lain jujur,
disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu,
bersahabat/komunikatif, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.
- Mengevaluasi Dan Merevisi
1.
Menilai Prestasi Pelajar
Ini dilakukan untuk menilai hasil belajar siswa.
Kemapuan dan keterampilan apa yang diperoleh siswa yang disesuaikan dengan
standar (SK dan KD)dan tujuan. Karena pembelajaran dengan melakukan praktek,
maka penilaian yang dilakukan adalah dengan menilai kinerja dan produk yang
dihasilkan siswa, secara autentik dan komprehensif. Menilai sejauh mana siswa
menguasai materi pelajaran, dan bagaimana siswa mengerjakan kinerjanya tahap
demi tahap untuk menyelesaikan suatu tugas, sehingga ia menghasilkan suatu
karya, dokumen pengolah kata. Disni guru juga menilai sikap siswa terhadap
keseriusan mereka mengerjakan suatu tugas. Setiap tugas dari tahap ke tahap
disimpan dan dinilai oleh guru, ini bisa menjadi dokumen protofolio kelompok
siswa, sesuai dengan kreasi mereka masing-masing, dan ini disimpan dalam bentuk
elektronik, dalam bentuk file dan dinilai oleh guru.
2.
Mengevaluasi
dan Merevisi Strategi, Teknologi dan Media
Evaluasi juga
perlu dilakukan untuk menilai dan merevisi ketepatan strategi , teknologi dan
media. Selain itu guru sendiri juga perlu dinilai baik oleh dirinya sendiri
(mengintrospeksi diri, untuk lebih baik), melalui teman sejawat ataupun melalui
administrator, yang biasanya di sekolah ada program supervisi guru, sehingga
guru dinilai oleh tim guru yang lebih berpengalaman. Terakhir guru dapat
menilai dan menganalisis hasil belajar
siswa, karena dari situ guru dapat menilai kekurangan-kekurangan, strategi,
pemilihan materi, teknologi dan media. Yang ini bisa juga dilihat dari
keberhasilan siswa mencapai suatu tujuan pembelajaran.
Kesimpulan
Dari
penyajian penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa suatu proses
pembelajaran pada dasarnya merupakan penyampaian pesan dari guru kepada siswa karna dalam merancang
pembelajaran dapat dibantu dengan model pembelajaran ASSURE. Karena model
ASSURE dapat membantu pembelajar tahap demi tahap dalam merencanakan kegiatan
pembelajaran seperti menganalisis pembelajar, membantu bagaimana menentukan
tujuan, memilih media-teknologi-strategi-materi, menggunakan
media-teknologi-strategi-materi, bagaimana membuat pebelajar berpartisipasi
aktif sampai menilai dan merevisi kegiatan yang telah berlangsung.
Untuk menyampaikan pembelajaran guru terlebih dahulu perlu membuat peracangan
agar pembelajaran menjadi lebih efektif
dan efisien. Pembelajaran yang efektif dan efisien dapat diwujudkan dengan
memanfaatkan berbagai teknologi dan media yang mendukung pembelajaran.
Pemanfaatan media dan teknologi ini akan membantu guru dan siswa lebih
mempermudah komunikasi terutama dalam menyampaikan dan menangkap pesan
pembelajaran. Media dan teknologi memegang peran penting dalam mendukung proses
pembelajaran. Untuk dapat mewujudkan suatu proses pembelajaran yang menggunakan
teknologi dan media guru dapat memilih model ASSURE. Model Assure ini merupakan
suatu pendekatan sistematis untuk mewujudkan pembelajaran yang efektif dengan
langkah: menganalisis siswa, menentukan tujuan, memilih teknologi dan media,
menggunakan teknologi media, melibatkan keaktifan siswa dan melakukan evaluasi
dan revisi.
Saran
Dari pembahasan di atas, kita perlu mengetahui sangat
penting kiranya untuk mewujudkan pembelajaran yang efektif dan efisien, yang
salah satu caranya adalah dengan menggunakan media dan teknologi. Media dan
teknologi akan membantu proses penyampaiaan pesan dari guru dan siswa. Untuk
merancang suatu proses pembelajaran yang menggunakan media dan teknologi ini,
penulis menyarankan untuk merancang pembelajaran dengan mengunakan model ASSURE.
ASSURE merupakan suatu model pembelajaran yang dapat membantu guru untuk
mewujudkan pembelajaran dengan efektif dan efisien, karena ASSURE merupakan
langkah sistematis untuk merancang suatu pembelajaran dengan baik. Model ASSURE
ini dapat mempermudah guru dan dapat digunakan dalam setiap tingkat/jenjang
sekolah. Karena itulah penting kiranya kita untuk lebih mendalami model ini,
agar juga dapat kita terapkan dalam proses pembelajaran di kelas.
RPP IPS KELAS VII
RENCANA
PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(RPP)
Nama Sekolah : SMP N
1 Muara Bungo
Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Sosial
Kelas / Semester : VII / 1
Alokasi Waktu : 4 X 40 menit (4x
pertemuan)
Standar Kompetensi
|
:
|
1.
Memahami lingkungan kehidupan
manusia.
|
Kompetensi Dasar
|
:
|
1.1. Mendiskripsikan
keragaman bentuk muka bumi, proses pembentukan dan dampaknya terhadap kehidupan.
|
Indikator:
- Mendeskripsikan proses alam endogen yang menyebabkan terjadinya berbagai bentukan di permukaan bumi.
- Mendeskripsikan gejala disatropisme dan vulkanisme serta sebaran tipe gunung api.
- Mendeskripsikan faktor-faktor penyebab terjadinya gempa bumi dan akibat yang ditimbulkan.
- Mengidentifikasi jenis batuan berdasarkan proses pembentukannya.
- Mendeskripsikan proses pelapukan.
- Mendeskripsikan erosi dan faktor-faktor penyebab dan dampaknya.
- Memberikan contoh bentukan yang dihasilkan oleh proses sedimentasi.
- Mengidentifikasi dampak positif dan negatif dari tenaga endogen dan eksogen bagi kehidupan serta upaya penanggulangannya.
I.
Tujuan
Pembelajaran :
1.
Menjelaskan
proses alam endogen yang menyebabkan terjadinya bentuk muka bumi.
2.
Menjelaskan
gejala diastropisme dan vulkanisme.
3.
Membedakan
tipe-tipe gunung menurut bentuknya.
4.
Menyebutkan
faktor-faktor penyebab terjadinya gempa bumi dan akibat yang ditimbulkan.
5.
Menyebutkan jenis batuan berdasarkan
proses pembentukannya.
6.
Menjelaskan
terjadinya proses pelapukan.
7.
Menyebutkan
faktor penyebab erosi dan dampak erosi.
8.
Memberikan contoh bentukan yang dihasilkan oleh proses sedimentasi.
9.
Menjelaskan
dampak positif dan negatif dari tenaga endogen dan eksogen.
II.
Materi
Ajar :
1.
Proses alam endogen terhadap
pembentukan muka bumi.
2.
Gejala disatropisme dann vulkanisme.
3.
Tipe-tipe
gunung menurut bentuknya.
4.
Faktor penyebab terjadinya gempa
bumi.
5.
Jenis-jenis
batuan menuurut proses pembentukannya.
6.
Proses
pelapukan.
7.
Faktor penyebab
terjadinya erosi.
8.
Hasil bentukan
dari proses sedimentasi.
9.
Dampak positif
dan negatif dari tenaga endogen dan eksogen.
III.
Metode
Pembelajaran
Adapun strategi pengajaran yang dipilih guru adalah :
1. Strategi pengajaran berpusat pada guru.
2.
Strategi pengajaran yang berpusat pada siswa.
Metode
Pembelajaran
Ø Ceramah
Ø Diskusi
Ø Tanya jawab
Ø Penugasan
IV.
Kegiatan pembelajaran
Kegiatan
Pendahuluan
Ø Guru memberi salam, berdoa bersama,
dan mengabsen siswa.(hormat,
taqwa,disiplin)
Ø Guru memeriksa kebersihan kelas dan
kerapiannya.(disiplin dan
bertanggungjawab)
Ø Guru memberikan garis besar
pembelajaran materi yang akan dipelajari.
Ø Menyampaikan tujuan pembelajaran (Tanggung jawab)
Ø Apersepsi
: Pernahkah engkau bersyukur atas
adanya bumi yang kia tinggali ?
Ø Motivasi
: Sebaiknya kita mempelajari bagaimana
proses kemerdekaan bangsa Indonesia yang telah diperjuangkan oleh para pemuda
pada tahun 1945.
Kegiatan Inti (20 menit)
- Eksplorasi
Guru membagi siswa dalam 5 kelompok
dengan pembagian : (kerjasama)
Ø Kelompok 1 : Mendeskripsikan proses alam endogen
Ø Kelompok 2 : gejala disatropisme dan vulkanisme
serta sebaran tipe gunung api.
Ø Kelompok 3 : tipe-tipe gunung menurut bentuknya..
Ø Kelompok 4 : Faktor penyebab terjadinya gempa
bumi
Ø Kelompok 5 : Proses Pelapukan
Ø Guru memfasilitasi materi yang akan dibahas oleh siswa (peduli)
Ø Siswa
mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru (kerja
keras)
- Elaborasi
·
Kelompok berdiskusi tentang topik
yang sudah menjadi tugasnya (Kerjasama)
·
Guru berkeliling memeriksa diskusi
dan membimbingnya
·
guru menunjuk perwakilan kelompok
1-2 untuk menyampaikan hasil diskusinya (tanggungjawab)
·
Setiap kelompok melalui perwakilan
kelompok memprestasikan hasil diskusi.(demokrasi)
- Konfirmasi
·
Guru
dan siswa memberi tanggapan tentang hasil diskusi kelompok
·
Guru memberi penguatan hasil diskusi yang disampaikan
setiap kelompok
·
Memberikan pengetahuan lain (inovatif)
Kegiatan
Penutup
·
Guru membimbing siswa membuat suatu kesimpulan
·
Guru menyiapkan tindak lanjut
·
Guru memberi pertanyaan lisan seputar materi yang telah
dipelajari
·
Guru menekankan perasaan
nasionalisme dan patriotisme tentang usaha-usaha mewujudkan kemerdekaan
Refleksi : Siswa telah dapat menjelaskan
dampak terjadi adanya pengaruh tenaga endogen dan eksogen di muka bumi
V.
Sumber Belajar
·
buku
teks yang relevan
·
peta
dunia dan peta negara Indonesia
·
LCD
·
Video dan
foto/gambar
VI.
Penilaian Hasil Belajar
Indikator
|
Penilaian
|
||
Teknik
|
Bentuk
|
Contoh
instrument
|
|
|
Tes Tertulis
|
Essay
|
1.
Apakah yang dimaksud
dengan tenaga geologi dan berikan
contohnya!
2. Sebutkan tipe gunung api yang banyak
terdapat di Indonesia
3.
Buatlah peta jalur gempa bumi yang
ada di Indonesia
4.
Berikan 2 contoh jenis batuan sedimen
!
5.
Jelaskan proses pelapukan biologis !
|
Muara Bungo, Juni 2014
Mengetahui,
Kepala Sekolah SMPN 1 Muara Bungo Guru
Mata Pelajaran
Dra. Hj. Eni Husnanaeny,MM. Debi Martavia , S Pd
NIP. 196005071983032004 NIP. 196207081987032002
DAFTAR PUSTAKA
Hujair AH. Sanaky. 2009. Media Pembelajaran. Yogyakarta : Safiria Insania Prees
M. Atwi Suparman. 2012. Desain Instruksional Modern. Jakarta : Erlangga
Richey, Rita C., Klein, Kames D., Tracey, Monica W. 2011. The Instructional Design Knowledge Base,
Theory, Research, and Practice. New York : Routledge
Smaldino, Sharon E, Lowther, Deborah L., Russell, James D. 2018. Instructional Technology and Media for Learning. Boston
: Pearson
Smaldino, Sharon E, Lowther, Deborah L., Russell, James D. 2012. Instructional Technology and Media for Learning. Boston
: Pearson
Sukiman. 2012. Pengembangan
Media pembelajaran. Yogyakarta : PedagogiaWina Sanjaya. 2011. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran.
Jakarta: Kencana Prenada Media Grup
Tidak ada komentar:
Posting Komentar